Help me to help you
To dance without legs
Sing without lips
Shout without voices
See without eyes
Visualized the disempowerment
Look into my eyes
Can you see my pain among my enemy
Those who can turn will turn
What about those who can't
They will have to stay.
Normalize the abnormal
Empower the disempowerment
To able the disabled
Look into your stream of consciousness
Conscience your consciousness
As the disabled are able
As the disempowered are empowered
As the inaccessible is accessed
As the inequalities are equalize
As the dependent are independent
As the colonized are sovereign...
Help me to help you, Able the disabled!
_____________________________________
* Performed by Zimbabwe participant, at closing party of Third Country Training Program in the Field of Vocational Rehabilitation for Persons With Disabilities, Cibinong, Bogor, 2009.
Tampilkan postingan dengan label disabilitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label disabilitas. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 04 Juni 2011
Jumat, 03 Juni 2011
Who Has The Handicapped?
If you cannot see
the person
but only the handicap,
who then is blind?
If you cannot hear
the cries of your brother
for justice,
who then is deaf?
If you cannot talk
to your sister
but avoid her,
who has the mental problem?
If you do not stand up
to assert the rights
of every person,
who has the weak legs?
Your attitude to people
with handicaps
is our greatest obstacle,
and yours too.
Tony Wong
Jamaica
Member of the International Council for People with Disabilities
From:
http://www.senanghati.org/contact.html
the person
but only the handicap,
who then is blind?
If you cannot hear
the cries of your brother
for justice,
who then is deaf?
If you cannot talk
to your sister
but avoid her,
who has the mental problem?
If you do not stand up
to assert the rights
of every person,
who has the weak legs?
Your attitude to people
with handicaps
is our greatest obstacle,
and yours too.
Tony Wong
Jamaica
Member of the International Council for People with Disabilities
From:
http://www.senanghati.org/contact.html
Jumat, 20 Maret 2009
Antara Tuna Rungu Wicara dan Albino
Kalo baca judulnya pasti aneh, emang apa hubungannya antara Tuna Rungu WIcara dan Albino?
Emang ada kaitannya gitu?
Yang pasti jawabannya cuma ada di pengalamanku ini.
Pada hari minggu lalu, aku sengaja memanggil dua siswa Tuna Rungu Wicara (TRW) melalui pembina asramanya agar siswa tersebut datang ke rumah dinas yang aku tempati yang tidak jauh dari kantorku. Yah, aku sengaja memanggilnya ke rumah untuk belajar Bahasa Inggris secara private.
Mereka adalah 2 dari 40 siswa jurusan KOmputer dan Elektronika yang menjadi muridku di kantor, yah tepatnya mereka adalah penerima manfaat dari Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Bina Daksa tempatku bekerja. memang, sudah tiga tahun ini, kantorku mecoba menerapkan sitem multi layan, jadi kami tidak hanya melayani Tuna Daksa, tapi juga Tuna Rungu Wicara. Jadi, dari 100 siswa yang kami latih setiap tahun yang ditempatkan di 5 jurusan keterampilan (Penjahitan, KOmputer, Grafhic Design, Elektronika dan Pekerjaan Logam) diantaranya adalah Tuna Rungu Wicara. tahun ini kami melatih 90 Tuna Daksa dan 10 Tuna Rungu Wicara.
Well, kembali ke dua siswa Tuna Rungu Wicara tadi, mereka adalah anak pintar dan aktif. tapi karena ketika belajar di kelas mereka suka terlihat keteteran dengan target belajar yang notabene mengikuti target TUna Daksa, diberikanlah free private ini.
Ketika aku mengajari mereka secara private,mereka sangat terlihat antusias dan menunjukkan penerimaan dan penguasaan materi yang luar biasa. Ketika sedang belajar, tiba-tiba satu dari siswa tersebut berbicara dengan isyaratnya:
"Bu, aku lihat bule, You Tube. aku tidak tahu bicaranya, gak bisa"
"Oh... kamu lihat bule di Video You Tube" kataku mencoba meyakinkan dengan menggunakan bahasa isyarat.
"BUkan, Y U S U F Bule yang di kelas elektro!" jelasnya dengan menggunakan ejaan jari.
OH...
kemudian aku teringat, Yusuf yang dia maksud adalah siswa Tuna Daksa Elektro yang menjadi muridku juga. Yusuf adalah siswa albino yang aku lupa dari propinsi mana dia berasal. Yah memang, karena albino nya ini,Yusuf sering dipanggil bule sama teman-temannya. Nah sebagai Tuna Rungu Wicara yang notabene miskin bahasa, memang siswaku ini tidak tahu yang namanya albino. yang dia tahu kalo kulitnya bule dan rambutnya pirang, maka itulah bule atau dalam kosa kata mereka disebut sebagai Amerika.
Sangat miris sekali aku melihatnya, siswa aktif seperti dia, yang bahkan walaupun Tuna Rungu Wicara, dia adalah atlet catur nasional lho!! wuih... aku saja tidak mengerti cara main catur, dia sudah jadi juara, tingkat nasional lagi!
Kemudian aku menjelaskan apa itu albino kepada mereka. Aku jelaskan dengan kalimat yang sangat sederhana.
Aku jadi merasa tertantang untuk melatih mereka, para Tuna Rungu Wicara yang ada di kantorku. agar mereka tidak lagi menjadi sosok yang miskin bahasa. aku ingin mengajari mereka bahasa yang baik. terutama Bahasa INdonesia dan Bahasa Inggris, dengan cara mengobrol banyak dengan mereka dan berdiskusi tentang hal-hal yang ada di sekitar kita. agar mereka tidak lagi terpenjara di dunia bebas ini. Agar mereka paham apa yang terjadi di luar sana, agar mereka terus menerus mendapatkan informasi seperti halnya anak mendengar.
Aku jadi ingat, bagaimana seorang Tuna Rungu dari Inggris yang tuli total, bisa bicara dengan baik. dan dia bisa menyimak apa yang bibir kita ucapkan, walaupun bibir kita mengucapkan bahasa INdonesia, bukan Bahasa INggris.
Aku sangat berharap, bahwa pendidikan untuk Tuna Rungu di Indonesia bisa lebih baik, walaupun tidak sama dengan sistem yang diterapkan di Inggris sana. Insya Allah aku akan menulis hasil diskusiku dengan Tuna Rungu dari Inggris yang menakjubkan tersebut, diskusi kami tentunya mengenai metode pengajaran untuk Tuna Rungu. Mudah-mudahan aku bisa menulisnya dalam waktu cepat.
Emang ada kaitannya gitu?
Yang pasti jawabannya cuma ada di pengalamanku ini.
Pada hari minggu lalu, aku sengaja memanggil dua siswa Tuna Rungu Wicara (TRW) melalui pembina asramanya agar siswa tersebut datang ke rumah dinas yang aku tempati yang tidak jauh dari kantorku. Yah, aku sengaja memanggilnya ke rumah untuk belajar Bahasa Inggris secara private.
Mereka adalah 2 dari 40 siswa jurusan KOmputer dan Elektronika yang menjadi muridku di kantor, yah tepatnya mereka adalah penerima manfaat dari Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Bina Daksa tempatku bekerja. memang, sudah tiga tahun ini, kantorku mecoba menerapkan sitem multi layan, jadi kami tidak hanya melayani Tuna Daksa, tapi juga Tuna Rungu Wicara. Jadi, dari 100 siswa yang kami latih setiap tahun yang ditempatkan di 5 jurusan keterampilan (Penjahitan, KOmputer, Grafhic Design, Elektronika dan Pekerjaan Logam) diantaranya adalah Tuna Rungu Wicara. tahun ini kami melatih 90 Tuna Daksa dan 10 Tuna Rungu Wicara.
Well, kembali ke dua siswa Tuna Rungu Wicara tadi, mereka adalah anak pintar dan aktif. tapi karena ketika belajar di kelas mereka suka terlihat keteteran dengan target belajar yang notabene mengikuti target TUna Daksa, diberikanlah free private ini.
Ketika aku mengajari mereka secara private,mereka sangat terlihat antusias dan menunjukkan penerimaan dan penguasaan materi yang luar biasa. Ketika sedang belajar, tiba-tiba satu dari siswa tersebut berbicara dengan isyaratnya:
"Bu, aku lihat bule, You Tube. aku tidak tahu bicaranya, gak bisa"
"Oh... kamu lihat bule di Video You Tube" kataku mencoba meyakinkan dengan menggunakan bahasa isyarat.
"BUkan, Y U S U F Bule yang di kelas elektro!" jelasnya dengan menggunakan ejaan jari.
OH...
kemudian aku teringat, Yusuf yang dia maksud adalah siswa Tuna Daksa Elektro yang menjadi muridku juga. Yusuf adalah siswa albino yang aku lupa dari propinsi mana dia berasal. Yah memang, karena albino nya ini,Yusuf sering dipanggil bule sama teman-temannya. Nah sebagai Tuna Rungu Wicara yang notabene miskin bahasa, memang siswaku ini tidak tahu yang namanya albino. yang dia tahu kalo kulitnya bule dan rambutnya pirang, maka itulah bule atau dalam kosa kata mereka disebut sebagai Amerika.
Sangat miris sekali aku melihatnya, siswa aktif seperti dia, yang bahkan walaupun Tuna Rungu Wicara, dia adalah atlet catur nasional lho!! wuih... aku saja tidak mengerti cara main catur, dia sudah jadi juara, tingkat nasional lagi!
Kemudian aku menjelaskan apa itu albino kepada mereka. Aku jelaskan dengan kalimat yang sangat sederhana.
Aku jadi merasa tertantang untuk melatih mereka, para Tuna Rungu Wicara yang ada di kantorku. agar mereka tidak lagi menjadi sosok yang miskin bahasa. aku ingin mengajari mereka bahasa yang baik. terutama Bahasa INdonesia dan Bahasa Inggris, dengan cara mengobrol banyak dengan mereka dan berdiskusi tentang hal-hal yang ada di sekitar kita. agar mereka tidak lagi terpenjara di dunia bebas ini. Agar mereka paham apa yang terjadi di luar sana, agar mereka terus menerus mendapatkan informasi seperti halnya anak mendengar.
Aku jadi ingat, bagaimana seorang Tuna Rungu dari Inggris yang tuli total, bisa bicara dengan baik. dan dia bisa menyimak apa yang bibir kita ucapkan, walaupun bibir kita mengucapkan bahasa INdonesia, bukan Bahasa INggris.
Aku sangat berharap, bahwa pendidikan untuk Tuna Rungu di Indonesia bisa lebih baik, walaupun tidak sama dengan sistem yang diterapkan di Inggris sana. Insya Allah aku akan menulis hasil diskusiku dengan Tuna Rungu dari Inggris yang menakjubkan tersebut, diskusi kami tentunya mengenai metode pengajaran untuk Tuna Rungu. Mudah-mudahan aku bisa menulisnya dalam waktu cepat.
Selasa, 18 Maret 2008
when I was being a deaf n mute...
Sungguh tak adil rasanya jika mereka para client-ku (sebutan untuk siswa berusia 17-30 thn yg menajdi amanah baru bagiku), disebut sebagai penyandang cacat hanya karena mereka mempunyai ketidaksempurnaan secara fisik. (Yups, mereka telah terlanjur disebut sebagai penyandang cacat sesuai dengan UU No. 4 thn 1997 tentang Penyandang Cacat, dimana di pasal 1 disebutkan bahwa penyandang cacat adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan hambatan baginya untuk melakukan kegiatan secara selayaknya, yang terdiri dari : penyandang cacat fisik, penyandang cacat mental , serta penyandang cacat fisik dan mental (ganda)).
Tapi bagiku tetep rasanya tak adil jika menyebutkan mereka sebagai penyandang cacat, jadi untuk selanjutnya aku, untuk diriku sendiri dan lingkungan terdekatku yang satu bahasa denganku hanya akan menyebut mereka sebagai client saja... terserah yang lain mau setuju atau tidak... :P bagiku, para client itu hanya mempunyai kemampuan yang berbeda dengan orang-orang normal yang memiliki kesempurnaan fisik pada umumnya.
Pagi itu, ketika untuk pertama kalinya aku bergabung langsung dengan kegiatan mereka di hari Sabtu, yaitu kegiatan olahraga dan seni.
Perasaanku aneh, saat kumasuki Aula tempat 100 client-ku berlatih.
aku serasa menjadi asing di situ, merasa menjadi golongan minoritas.
APalagi ketika kulihat mereka bercanda dan tertawa dengan menggunakan bahasa mereka. Aku sama sekali tidak paham!
Aku sungguh benar2 menjadi orang yang cacat saat itu, karena aku tidak bisa memahami apa yang mereka bicarakan dan tidak bisa berkomunikasi dengan mereka. Kemampuan bahasa dan komunikasi aku seolah-olah tak ada gunanya saat itu.
aku benar-benar menjadi orang yang bisu & tuli yang tidak bisa memahami dan ikut ngobrol dengan mereka. yups, karrena aku memang belum bisa menggunakan bahasa mereka.
mungkin ini pula yang pernah mereka rasakan ketika mereka bergabung dengan orang-orang normal kebanyakan.
O, beginikah rasanya menjadi orang yang berbeda dengan orang kebanyakan???
Beginikah rasanya menjadi orang bisu dan tuli??
HAtiku perih,
apalagi ketika ada satu client perempuan yang dengan ramahnya dari kejauhan mengajak aku tersenyum dan menggunakan bahasa isyarat untuk menyapaku, tapi aku hanya bisa membalas dengan senyuman saja, karena bener2 gak tau harus jawab gimana... aku jawabpun, dia gak akan dengar n ngerti bahasa aku.
O ternyata aku memang belum bisa apa2 untuk membantu mereka,
padahal ada ilmu yang harus aku amalkan kepada mereka, tapi sampai saat itu aku belum tau bagaimana cara menyampaikannya...
pengalamanku menjadi orang bisu dan tuli menjadi cambuk yang hebat untukku, untuk belajar bahasa isyarat...
cambuk yang sangat hebat!
Alhamdulillah satu hari berikutnya aku sudah bisa sedikit memahami bahasa mereka, dan menjadikan aku seperti anak kecil yg belajar ngomong, masih terbata2...
Terima kasih teman2 yang sudah ngajarin aku bahasa isyarat..
aku akan terus belajar agar aku bisa lebih lancar menggunakan bahasa isyarat.
I promise!
Tapi bagiku tetep rasanya tak adil jika menyebutkan mereka sebagai penyandang cacat, jadi untuk selanjutnya aku, untuk diriku sendiri dan lingkungan terdekatku yang satu bahasa denganku hanya akan menyebut mereka sebagai client saja... terserah yang lain mau setuju atau tidak... :P bagiku, para client itu hanya mempunyai kemampuan yang berbeda dengan orang-orang normal yang memiliki kesempurnaan fisik pada umumnya.
Pagi itu, ketika untuk pertama kalinya aku bergabung langsung dengan kegiatan mereka di hari Sabtu, yaitu kegiatan olahraga dan seni.
Perasaanku aneh, saat kumasuki Aula tempat 100 client-ku berlatih.
aku serasa menjadi asing di situ, merasa menjadi golongan minoritas.
APalagi ketika kulihat mereka bercanda dan tertawa dengan menggunakan bahasa mereka. Aku sama sekali tidak paham!
Aku sungguh benar2 menjadi orang yang cacat saat itu, karena aku tidak bisa memahami apa yang mereka bicarakan dan tidak bisa berkomunikasi dengan mereka. Kemampuan bahasa dan komunikasi aku seolah-olah tak ada gunanya saat itu.
aku benar-benar menjadi orang yang bisu & tuli yang tidak bisa memahami dan ikut ngobrol dengan mereka. yups, karrena aku memang belum bisa menggunakan bahasa mereka.
mungkin ini pula yang pernah mereka rasakan ketika mereka bergabung dengan orang-orang normal kebanyakan.
O, beginikah rasanya menjadi orang yang berbeda dengan orang kebanyakan???
Beginikah rasanya menjadi orang bisu dan tuli??
HAtiku perih,
apalagi ketika ada satu client perempuan yang dengan ramahnya dari kejauhan mengajak aku tersenyum dan menggunakan bahasa isyarat untuk menyapaku, tapi aku hanya bisa membalas dengan senyuman saja, karena bener2 gak tau harus jawab gimana... aku jawabpun, dia gak akan dengar n ngerti bahasa aku.
O ternyata aku memang belum bisa apa2 untuk membantu mereka,
padahal ada ilmu yang harus aku amalkan kepada mereka, tapi sampai saat itu aku belum tau bagaimana cara menyampaikannya...
pengalamanku menjadi orang bisu dan tuli menjadi cambuk yang hebat untukku, untuk belajar bahasa isyarat...
cambuk yang sangat hebat!
Alhamdulillah satu hari berikutnya aku sudah bisa sedikit memahami bahasa mereka, dan menjadikan aku seperti anak kecil yg belajar ngomong, masih terbata2...
Terima kasih teman2 yang sudah ngajarin aku bahasa isyarat..
aku akan terus belajar agar aku bisa lebih lancar menggunakan bahasa isyarat.
I promise!
Langganan:
Postingan (Atom)