kadang manusia terlalu sombong tuk menangis
lalu untuk apa air mata telah dicipta
bukan hanya bahagia yang ada di dunia
menangislah...
di bahuku kau berikanku kepercayaan
bahwa laramu adalah haru biruku
kerna ku adalah sahabatmu
Selasa, 26 Januari 2010
Senin, 12 Oktober 2009
Senyum ^_^
Meredup
Mulai meluntur
Mulai kabur
Mari beri warna ceria
Sayup
Mulai mendayu
Mulai merayu
Mari beri nada bahagia
Kuncup
Mulai mekar
Mulai menyebar
Mari buat ikebana dengan pita
Kuyup
Mulai basah
Mulai meriah
Mari buat semua bersukacita
Ya...
Senyummu
Kunci semuanya bermula
^_^
___________________________
ya, kunci semuanya adalah senyuman
yang kadang ahrus dipaksakan walau dalam kondisi terpahit sekalipun.
walau kadang harus tersenyum dengan diiringi air mata.
ketika hati ini terasa perih, senyum ini pun haruis tetap ada.
Biarlah Allah yang akan menghapus kesedihan itu... dan jangan biarkan senyum itu hilang.
Mulai meluntur
Mulai kabur
Mari beri warna ceria
Sayup
Mulai mendayu
Mulai merayu
Mari beri nada bahagia
Kuncup
Mulai mekar
Mulai menyebar
Mari buat ikebana dengan pita
Kuyup
Mulai basah
Mulai meriah
Mari buat semua bersukacita
Ya...
Senyummu
Kunci semuanya bermula
^_^
___________________________
ya, kunci semuanya adalah senyuman
yang kadang ahrus dipaksakan walau dalam kondisi terpahit sekalipun.
walau kadang harus tersenyum dengan diiringi air mata.
ketika hati ini terasa perih, senyum ini pun haruis tetap ada.
Biarlah Allah yang akan menghapus kesedihan itu... dan jangan biarkan senyum itu hilang.
Senin, 24 Agustus 2009
Senin, 03 Agustus 2009
Standar formal
Memang sih, formal tuh gak ada standarnya. Tiap daerah dan bahkan tiap negara berbeda-beda standarnya. Contohnya, penduduk di negara tertentu boleh-boleh saja memakai sandal dan kaos ketika mengunjungi kantor klien, bertemu atasan atau bahkan bertemu menteri sekalipun.
Tapi Indonesia punya standar sendiri, misalnya ketika kunjungan resmi ke kantor menteri atau gubernur, tak sopan seandainya kita hanya memakai sendal jepit, jeans ketat atau kaos oblong.
Walau pengalamanku tidak banyak dalam mengurus orang-orang luar negeri yang pernah bekerja sama secara resmi dengan pemerintah Indonesia, dimana aku baru mempunyai pengalaman bekerjasama dengan orang Belanda, Jerman, Finlandia, Swedia, Inggris, Jepang, Afrika Selatan, Zimbabwe, Philifina, Pakistan, Bangladesh, Kamboja, Vietnam, Thailand, Nepal, Sri Lanka, Palestina, dan negara muda, Timor Leste. Yang durasinya hanya dalam kurun waktu 1-24 bulan saja. Tapi belum pernah aku menemukan kasus yang sangat mengesalkan seperti ini. Dimana aku harus berulang-ulang mengatakan dan memohon supaya mereka mengikuti standar di Indonesia. Jangan sampai malu-maluin aku sebagai salah satu panitianya.
Masa mau ketemu gubernur, menteri aja masih pada pake stelan ke pasar. Yang merasa tidak enak, kan panitianya. Padahal sebelum mereka disetujui terlibat dalam kerjasama ini, mereka pun sudah menyepakati standar2 yg diterapkan di Indonesia. Ah dasar, memang gak cuma orang kita yang ingkar janji, orang luar pun sama.
Sampai pada kejadian hari ini, dimana aku akan membawa mereka mengunjungi Pusat Rehabilitasinya Departemen Pertahanan yang berdasarkan pengalaman aku, disana tuh kita disambut secara resmi oleh para petinggi2 Dephan. Eh masih ada juga peserta dari negara tetangga yang pakai stelan ke pasar. Ketika aku minta mereka kembali ke kamar untuk ganti, eh yang ada ngambek. Nurut sih nurut (daripada gak dikasih sertifikat lulus sama panitia kali :-P) tapi sambil ngedumel. Memang sih ini mah karena personal dia aja kali, yang udah2, temen senegaranya gak begitu.
Yah sudahlah, ini hanya pengalamanku pagi ini saja, mudah2an kita semua bisa belajar tentang bagaimana menghargai sebuah komitmen terhadap suatu standar.
Any comment?
Tapi Indonesia punya standar sendiri, misalnya ketika kunjungan resmi ke kantor menteri atau gubernur, tak sopan seandainya kita hanya memakai sendal jepit, jeans ketat atau kaos oblong.
Walau pengalamanku tidak banyak dalam mengurus orang-orang luar negeri yang pernah bekerja sama secara resmi dengan pemerintah Indonesia, dimana aku baru mempunyai pengalaman bekerjasama dengan orang Belanda, Jerman, Finlandia, Swedia, Inggris, Jepang, Afrika Selatan, Zimbabwe, Philifina, Pakistan, Bangladesh, Kamboja, Vietnam, Thailand, Nepal, Sri Lanka, Palestina, dan negara muda, Timor Leste. Yang durasinya hanya dalam kurun waktu 1-24 bulan saja. Tapi belum pernah aku menemukan kasus yang sangat mengesalkan seperti ini. Dimana aku harus berulang-ulang mengatakan dan memohon supaya mereka mengikuti standar di Indonesia. Jangan sampai malu-maluin aku sebagai salah satu panitianya.
Masa mau ketemu gubernur, menteri aja masih pada pake stelan ke pasar. Yang merasa tidak enak, kan panitianya. Padahal sebelum mereka disetujui terlibat dalam kerjasama ini, mereka pun sudah menyepakati standar2 yg diterapkan di Indonesia. Ah dasar, memang gak cuma orang kita yang ingkar janji, orang luar pun sama.
Sampai pada kejadian hari ini, dimana aku akan membawa mereka mengunjungi Pusat Rehabilitasinya Departemen Pertahanan yang berdasarkan pengalaman aku, disana tuh kita disambut secara resmi oleh para petinggi2 Dephan. Eh masih ada juga peserta dari negara tetangga yang pakai stelan ke pasar. Ketika aku minta mereka kembali ke kamar untuk ganti, eh yang ada ngambek. Nurut sih nurut (daripada gak dikasih sertifikat lulus sama panitia kali :-P) tapi sambil ngedumel. Memang sih ini mah karena personal dia aja kali, yang udah2, temen senegaranya gak begitu.
Yah sudahlah, ini hanya pengalamanku pagi ini saja, mudah2an kita semua bisa belajar tentang bagaimana menghargai sebuah komitmen terhadap suatu standar.
Any comment?
Sabtu, 25 Juli 2009
Senin, 06 Juli 2009
surgaku
setahun lalu,
aku berbangga hati,
lalu aku umumkan kepada dunia,
bahwa akulah orang yang paling berbahagia
akulah orang yg paling beruntung
yang telah menemukan sorgaku...
Tuhan menaburkan duri dalam surgaku
sedikit demi sedikit aku merasakan tusukan duri tersebut
namun aku tahu
Tuhan hanya ingin membuatku kebal akan sakit
aku sadar
Tuhan hanya ingin menguji kesabaranku
Tuhan menambahkan duri lebih banyak lagi
Aku tahu Tuhan ingin aku lebih kuat
ingin aku teriak...
agar rasa sakitku berkurang
tapi aku malu sama dunia dan seisinya
aku terlanjur bermulut besar
tentang surga ini
Ah...
Aku ingat
Tuhan hanya ingin mengujiku saja
kuurungkan saja niatku untuk berteriak
Aku yakin
Tuhan akan segera membuang duri-duri itu
dan menggantinya
dengan bunga warna warni yg harum
iya kan,Tuhan?
aku berbangga hati,
lalu aku umumkan kepada dunia,
bahwa akulah orang yang paling berbahagia
akulah orang yg paling beruntung
yang telah menemukan sorgaku...
Tuhan menaburkan duri dalam surgaku
sedikit demi sedikit aku merasakan tusukan duri tersebut
namun aku tahu
Tuhan hanya ingin membuatku kebal akan sakit
aku sadar
Tuhan hanya ingin menguji kesabaranku
Tuhan menambahkan duri lebih banyak lagi
Aku tahu Tuhan ingin aku lebih kuat
ingin aku teriak...
agar rasa sakitku berkurang
tapi aku malu sama dunia dan seisinya
aku terlanjur bermulut besar
tentang surga ini
Ah...
Aku ingat
Tuhan hanya ingin mengujiku saja
kuurungkan saja niatku untuk berteriak
Aku yakin
Tuhan akan segera membuang duri-duri itu
dan menggantinya
dengan bunga warna warni yg harum
iya kan,Tuhan?
Kamis, 16 April 2009
kembalikan belahan jiwaku, Tuhan....
Tuhan,
Di tengah gelak tawa dan canda,
aku merasa sepi
sendiri...
separuh jiwaku telah hilang...
Tuhan,
kembalikan belahan jiwaku,
aku mohon...
Di tengah gelak tawa dan canda,
aku merasa sepi
sendiri...
separuh jiwaku telah hilang...
Tuhan,
kembalikan belahan jiwaku,
aku mohon...
Langganan:
Postingan (Atom)