Tampilkan postingan dengan label Ndung's poEtRy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ndung's poEtRy. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Oktober 2010

......

Apakah mencintaimu melanggar hukum?
Sehingga kau harus memenjarakanku dalam penantian tanpa batas...
Temui aku dalam pengasingan ini.
Setidaknya agar aku sadar,
bahwa menjadi tawananmu adalah pilihanku sendiri
walaupun sampai meregang nanti.

Selasa, 26 Januari 2010

menangislah... :'(

kadang manusia terlalu sombong tuk menangis
lalu untuk apa air mata telah dicipta
bukan hanya bahagia yang ada di dunia
menangislah...
di bahuku kau berikanku kepercayaan
bahwa laramu adalah haru biruku
kerna ku adalah sahabatmu

Senin, 12 Oktober 2009

Senyum ^_^

Meredup
Mulai meluntur
Mulai kabur
Mari beri warna ceria

Sayup
Mulai mendayu
Mulai merayu
Mari beri nada bahagia

Kuncup
Mulai mekar
Mulai menyebar
Mari buat ikebana dengan pita

Kuyup
Mulai basah
Mulai meriah
Mari buat semua bersukacita

Ya...
Senyummu
Kunci semuanya bermula

^_^

___________________________

ya, kunci semuanya adalah senyuman
yang kadang ahrus dipaksakan walau dalam kondisi terpahit sekalipun.
walau kadang harus tersenyum dengan diiringi air mata.
ketika hati ini terasa perih, senyum ini pun haruis tetap ada.
Biarlah Allah yang akan menghapus kesedihan itu... dan jangan biarkan senyum itu hilang.

Jumat, 20 Maret 2009

Menuju taman seribu bahagia

Kuntum semakin indah
Sejauh masih terlihat merah
Pagar menyamarkan sorot lampu
Cadar sutera menutup mata sayu
Langit yang dulu biru kini terlihat abu-abu

Ingin ku membisikkan kata sunyi pada hati, tapi sulit memahami.
Ingin ku meniup suara merdu pada nurani,
tapi sukar tuk mengagumi.

Mata masih saja memberikan kesan maya
Membuai manis setiap kata dalam kilat cahaya
Gerak tubuh membuat semua menjadi lebih nyata
Dalam dunia tanpa meriah pesta

Kuntum semakin indah
Saat musim berganti cerah
Petikan nada berbaur suara riuh rendah
Gulali di tangan mungil tanda suasana kian meriah
Dan gadis kecil berpita, pipinya semakin memerah

Masih ada rasa malu untuk memulai berkata
Meskipun ribuan sajak terlukis di dinding bertekstur rata

Dengan terbata-bata mulut itu terbuka
Membunyikan suara yang sukar diterima
Penuhilah dunia ini dengan warna derma
Manjakanlah langkahmu menuju taman seribu bahagia.

Kamis, 19 Februari 2009

.........

Langkah kaki mulai mengambang
Lunglai terbawa angin terbang
Azam yang sudah dipancang tumbang
Akal terurai dan semburat sinar membawanya melayang.

Soji terguncang
Pena di genggaman jatuh menghilang
Sepucuk surat belum selesai dilukis
Saat pemiliknya menitipkan pesan pada burung belibis.

Bubuk penyambung nyawa beradu dengan dingin hawa
Dari samping beranda senja mulai melirik manja
Perjalanan panjang
Ujung pangkal tak tampak di pandang.

Senyum masih dipaksakan mengembang
Walau genggaman semakin meregang
Moment terlewatkan tak mungkin diulang
Air jatuh mengenang....

Selasa, 27 Januari 2009

Saat kehilangan

Saat kehilangan...
Waktu terasa berhenti utntuk merekam kenangan,
Bayangan akan menghilang bersama embun,
Desir daun tertiup angin makin tertegun.

Tetesan air masih menggantung di ujung atap,
Ketika wajah putih pucat seperti menguap,
Ditinggal membujur kaku,
Tiada lagi nafas dalam udara yang beku.

Air jatuh tak ada arti dan berbunyi,
Malam yang ramai tetap sunyi.

Saat kehilangan...
Kenyataan menjelma bayangan,
menghirup nafas panjang tak dapat meringankan,
Doa dan amalan lah yang menjadi tumpuan.

Tanah masih basah dengan hujan semalam,
Jejak kaki timbul menghujam,
Jalan lama dilalui beriringan,
Ke depan tak mungkin lagi bergandengan tangan.

Sinar mentari tak hangatkan hari,
Tertutup mata sampai tiba waktunya nanti.

Senin, 12 Januari 2009

....

Malam pun menjadi hening,
Langit tampak begitu bening,
Dan di dalam pelukan keheningan,
Malam tersembunyi mimpi kehilangan.

Bulan begitu bulat, jangan takut adikku,
Suara halus itu menyapaku.

Kalbu yang sudah meredup,
Kembali mencari gema yang hampir berlalu,
Kaki yang dingin,
Masih menahan sebagian nyawa,
Untuk merebahkan tubuh tidur kaku.

Bulan semakin pucat,
Selimuti jiwamu adikku,
Suara halus itu mengingatkanku.

Friksi dan siluet,
Makin mengganggu kelopak mata,
Degup mulai ada walaupun tidak tertata.

Biarkan hati yang ada di dirimu menjadikan hidup,
Suara terakhir itu hilang sayup-sayup.

Bulan semakin samar,
Tutupilah ragamu, adikku.
Suara halus itu ada di hatiku...

Minggu, 09 November 2008

Tiket kematian

Berbaring,
kemudian menyepi,
Menyudut,
Menyendiri,
Memegangi sepasang kaki yang kumiliki.
Menunduk,
menyembunyi.

Terkurung sepi,
terpasung malam sunyi,

Terlintas mimpi menampakkan kereta berhenti,
Tidak bisa lagi ku menolak untuk mengikuti,
tidak bisa lagi ku meminta kereta berhenti,
tiket kereta ternyata menang berlaku hari ini,

bekalku belum cukup,
aku memberontak,
badanku belum siap,
aku berteriak,
biarekan aku bermain sejenak,
biarkan aku tertawa terbahak,

Petugas tiket membelalak,
Petugas tiket menarik galak,

Tiket apa ini???
Kereta apa ini???
ku tersadar dari mimpi,
ku masih ingat tulisan tiket tadi.

peluh dan syukur mengikuti,
saat terjaga kembali,
karena,
semua pasti akan mengalami!

di tiket itu tertera
"Tiket waktumu berhenti dan m**i"

Semua pasti akan mengalami.

Rabu, 01 Oktober 2008

melukis mimpi

Aku melukis mimpi
karena aku dilahirkan sebagai manusia,
mari hidup di hari ini
dan memegang hari esok,
sekarang....
di matamu terbentang masa depan,
permatamu yang tak ternilai
ada di dalam hatimu,
besok pasti juga menyenangkan kan?
mari berjalan beriringan,
karena kamu ada di sini
aku bisa tersenyum terus....

Selasa, 30 September 2008

Jalan mana yg kan dilalui?

Ikan di kolam masih tetap riang,
Berenang dengan girang,
Tanpa peduli dengan hati majikan,
Yang gundah...
Seperti ditawan dan menanti hukuman,

Ketika daun kering jatuh terjun bebas,
Nurani mulai mencari nafas yang kan lepas,
Bersama butir-butir masa yang telah terkelupas,
Tanpa ada yang membekas.

Kenapa...?
Itu yang selalu dia baca,
Kenapa...?
Itu yang membuat berurai air mata.

Di balik jendela,
Kertas dan pena telah bercampur duka,
Lengan kain sutera,
Telah basah dengan peluh dosa.

Ketika sayup-sayup terdengar suara yang menggema,
Hati pemilik istana bisa merasa lega,
Dunia yang gelap ini telah dibekali berjuta jalan surga,
Tinggal bagaimana niat kita,
Mau melalui jalan yang mana,
SAng penyejuk lembut berkata pada penghuni istana.

^_^

Senin, 22 September 2008

Membuat history, bukan diary

Berkatalah lantang seperti meriam,
Di setiap malam walaupun kadang kelam,
Karena hari-hari yang akan kita lalui kan menjadi history,
Bukan sekedar diary.

Dalam kata yang melantun penuh rayu,
Dalam tiap huruf itu pula ada harapan lugu,
Jangan pernah hanya duduk terpaku,
Raihlah sampai di jiwaku.

Satu gurat pun tak boleh terlewati,
Rangkailah dengan sepenuh hati,
Supaya jika tiba waktunya nanti,
Cerita manis bisa dinikmati cucu dan buah hati,

Iya..., dari titik mulai kita berdiri,
Iya..., dari sini
Kapan lagi?
Jika tidak, kita tak akan membuat history!

Minggu, 14 September 2008

Memaknai keindahan yang ada

Pasir yang selalu berbisik,
kadang juga megusik,
Bersedir menabur warna,
Butir-butir kecil mengisi fana.

Merona di tengah cahaya,
Merinai di tepi samudera,
Lembut ketika disapa,
Lugas ketika ditempa.

Sepercik air bisa mencairkan suasana,
Setitik salju bisa mendinginkan durjana,
Segenggam pasir mungkin tiada guna,
Seluas samudera biru,
mungkin baru terasa pasir ada di sana.

Hitam sungguh buruk rupa,
Putih menawan dunia,
Hitam putih sama saja,
Dia memberi senyum penawar luka.

Bagaimana kita memaknai keindahan yang ada,
Nelayan berbisik pada pasir yang sudah medapatkan semangat jiwa...

Kamis, 10 Juli 2008

Jiwa yang tersenyum

jangan percaya penglihatan,
penglihatan dapat menipu.
Jangan percaya pemikiran,
pemikiran dapat menyesatkan.
Jangan percaya perasaan,
perasaan dapat menjatuhkan.
jangan percaya emosi,
emosi dapat mematikan.
jangan percaya kekayaan,
kekayaan dapat sirna.
Jangan percaya setan,
setan dapat menjerumuskan.
Percayalah pada Dia Yang Maha Mencintai,
Yang selalu membuat jiwa kita tersenyum
Sebab hanya jiwa yang bisa tersenyum
yang bisa mengubah gelap menjadi terang
dan menjadikan ahti kita selalu tersenyum...

Rabu, 09 Juli 2008

^_^

Entah apa yang terukir di atas tulang,
hingga membuat aku melayang dari pijakanku sekarang,
sampai tampak hitam arang.
Mungkin saja karena sudah lama tak kulewati jalan setapak ini,
jalan yang selalu nyaman untuk dinikmati,
walau hanya ditemani daun2 jatuh karena layu.
Bau tanah setapak makin merayu,
makin maju ku berpindah,
makin tertuju ku pada kenangan indah.
Strawberry....
Diary...
Dari jauh sudah bisa kudengar nyanyian rumah yang merdu,
walau dulu ku tidak percaya rumah2 juga bisa bernyanyi merdu,
gembira...
bahagia...
Jalan setapak ini masih bisa menyimpan memori,
daun itu masih bisa menyuarakan isi hati,
Gurata merah seperti semangka di ujung sana,
menuntun kaki untuk melewati rumah indah begitu saja.
Mata ingin menatap tapi tak kuasa.
Tentu saja dengan wajah sukacita...

Minggu, 23 Maret 2008

yang slalu mengingatkan ^_^

Angin begitu kencang meniup layang-layang,
benang itu hilang dari tangan,
begitu panjang,
terasa sakit sayatan benang di jari tangan,
terlalu sayang untuk dilepaskan...

sudah kau ulur dan tarik pelan,
sehingga perih luka semakin membebas tak terkirakan,
bukan salah karena tak ada persiapan,
benang putus di pangkal tangan,

Hai kawan!
tiba2 kau tepuk pundak mengingatkan,
membawa burung layang-layang baru kesukaan,
jangan terlalu panjang kau mengulur benang yang tajam,
jika tak ingin jari tangan tersayat dalam,
walau hanya sebuah permainan,
persiapkan pelindung tangan,
supaya benang bisa terikat ke dasar buritan.
Kalaupun terangkat,
kau bisa mudah meraih dengan cekatan...

^_^

Rabu, 05 Maret 2008

Life must go on and on...

Flamengo diam tak bergerak
demi menanti apa yang ia inginkan
Jejak kakinya kuat membekas
dan raut mukanya tak pernah masam
layaknya plum kesukaan...

Sekali kepak dia terbang jauh
membawa harap di ujung paruh
Kuangkat kepala di ujung senja
dia masih anggun di atas kanopi
Kusaring bunyi-bunyi di tepi bungalow ini,
sambil menanti pulangnya matahari.

Udara terasa dingin menyapa,
ketika separuh bulan tersembunyi
di balik kumpulan awan tebal,
seraya kupakai mantel kumal

Hening...
Kering...
Dingin...
tak membuat surut mata ini untuk terus mengamati,
gerakan apa lagi yang akan dibuatnya nanti.

^__^

Kamis, 14 Februari 2008

bersama di langit biru...

Sungguh indah...
bisa kulihat lagi naga merah dan garuda,
saling bertegur sapa kembali.

Di langit biru yang penuh pelangi,
genderang dan tari berpadu dengan harmoni,
lampu-lampu memancar sepenuh hati,
lilin dan lampion tak takut lagi ditiup mati.
Harum dupa dan mistik pun bisa kuhirup di puncak mimpi,
Bambu-bambu yang dulu mati, tumbuh kembali,
Bunga merah yang layu sudah bersemi lagi.

Semoga naga dan garuda bisa terus bersama,
di langit biru,
negeri yang sudah tampak patah hati.

Aha...
nampak merak dan phoenix pun mau kembali.

Nikmatilah setiap titik2 hujan itu...!

Bersuaralah sepenuh hati,
karena rintik hujan akan menjadi nadamu.
titik-titiknya berirama,
menjadi lagu hati.

Berdendanglah...
karena tiupan angin,
akan membunyikan seruling nuranimu.

Suara-suaranya mendayu,
menjadi pesan sanubari....

Perlahan namun pasti
hujan itu akan berhenti
menghilang...
bersama mendung yang pergi.

Seperti nada dan lagu
yang baru tercipta tadi...

Selasa, 22 Januari 2008

Continuing Ndung's poetry ah....

Dua merak berjalan lamban di tepi ngarai,
dua mata memandangnya dari balik dahan rapuh,
pesona warna? bukan, kata dia,
lantas apa pesona suasana? itu kata dia,
lantas dia tertawa...

hangat senja membuat mereka lupa,
terus berjalan membawa segenggam duka,
tak terasa aku terbuai dan terlena,
bunga-bunga yang bersemi sudah mati,
musim telah berganti...

Gerimis tak menyurutkan minat dua mata,
terasa iba,
merak melebarkan warnanya,
menaungi api yang tersisa,
untuk janji yang terlupa,
angin dan hujan telah menghalau musim semi tanpa jejak,
sang merak tak perduli,
ia terus menari,
menebar pesona warna,
unntuk sepasang mata yang memandangnya...

Genangan air kecil yang dulu,
berkilau terlihat dari ujung langit,
burung terjun bebas dari pucuk mega,
menyelam dalam sejuk cinta,
tak hanya satu, dua atau tiga mutiara dan permata,
tapi tak terkira,
indah paduan warna yang ia bawa....

Please analyze this poetry...!

Dawai-dawai besar mendengung seperti hujan,
dawai-dawai kecil berbisik seperti rahasia,
mendengung,
berbisik,
dan kemudian berbaur,
seperti mencurahkan mutiara besar dan kecil,
ke dalam piring berjeda...

Kita mendengar kali tersedu sedih,
di sepanjang tepian pasir,
andai dihentikan sentuhan dinginnya,
dawai itu bagai terputus,
seakan tidak terurus,
tapi nada-nada yang menghilang,
ke dasar kesedihan dan persembunyian ratapan,
lebih dapat ia bercerita dalam diam,
daripada dalam bunyi...

Sebuah jambang tiba-tiba pecah,
dan airnya tumpah...
Kuda-kuda berketopang melompat,
dan senjata-senjata membentur dan menghantam,
dan sebelum ia menjatuhkan beliungnya,
ia akhiri permainan dengan 1 pukulan...

Dan keempat dawai pun memperdengarkan satu bunyi,
seperti kain sutra yang koyak...