still...
I am still here
in the jail of a bad environment
But now I am trying to be "don't care" prisoner.
I don't want to be crazy
I don't to be sick mentally
I prefer to be myself although they though that I am abnormal.
Yeahhh...
I do not need assumption as normal person in abnormal surrounding :P
Jumat, 26 April 2013
Selasa, 23 April 2013
the notes from the jail
Good,
Bad,
What is the exact standard from these words? Nobody knows
about it. Nobody can make the standard for it. But I think everybody know that
good or bad are not an absolute thing or value to define.
The unique think is, in organization, people became aware if
something or someone is good when other people in other organization can use this
potential to be something better or best. And this thing doesn’t automatically
make them aware to maximize their own potential before taken by others, but
they kill it. Yes, the kill the potential persons in organization. And it is very
common in government organization.
Oh Indonesia, what a pity you are!
How can you can develop fast if the persons who manage you
don’t have a good willing to change you and your society. How can your society’s welfare can be
improved, if the persons who manage you is only thinking about their own
welfare, work with dirty ways, blaming one another, bad competition, and so on.
Oh Indonesia, please be patient. I do love you!
Kamis, 18 April 2013
Selasa, 17 April 2012
Lingkaran Kebaikan
Sebuah note yang ditulis di handphone saya....
_______________________________________
Beberapa waktu lalu, sahabat satu Instansi saya yang kebetulan ditempatkan di Kantor Pusat, akan berkunjung ke Unit kantor saya, yang berada di daerah. Karena arus lalu lintas yang sangat padat di pagi hari (apalagi hari Senin), maka saya menyarankan dia untuk menggunakan Commuter Line, yang hanya akan memakan waktu 1 jam saja dari tempatnya ke tempat saya. Entah kenapa, saya seperti menomorduakan urusan yang lain ketika melihat dia kebingungan, karena dia tidak pernah naik kereta sendirian, dan saya sangat khawatir jika membiarkan dia pergi sendirian. Dengan setulus hati, saya menunda urusan yang lain dulu, termasuk urusan proposal penelitian yang harus saya kerjakan. Saya melangkahkan kaki menuju stasiun dengan perasaan ringan.
Ketika sedang menunggunya di Stasiun, saya teringat bagaimana salah satu orang terbaik dalam hidup saya, pernah beberapa kali meluangkan waktunya dan menunda urusannya yang sangat banyak, hanya untuk menunggu saya di stasiun dan kemudian membantu (mengantarkan) saya ke suatu tempat yang belum pernah saya kunjungi sama sekali, dan kemudian menemani saya (dengan urusan saya) dan mengantarkan kembali ke stasiun untuk pulang. Thank you dear, Allah always be with you...
Memang sekilas mudah, kalau mau, naik taksi saja atau naik angkutan umum lainnya. Tapi naik angkutan umum sendiri, mencari-cari tempat yang tidak dikenal, bukanlah hal yang menyenangkan, tapi cenderung memberikan ketidaktenangan dan mengancam keselamatan juga (hari gini, kasus kriminal gampang sekali terjadi pada wanita).
Bantuan seperti itu tidak saya peroleh sekali saja, bahkan boleh dikatakan sering, dengan jenis kebaikan yang berbeda-beda. Ya, itu adalah kebaikan Allah yang dikirim melalui manusia-manusia pilihan-Nya.
Kasus lain mengenai kebaikan-kebaikan yang saya peroleh misalnya adalah ketika saya kekurangan referensi untuk penelitian saya, seorang peneliti dari Malaysia yang sama sekali tidak saya kenal, membantu saya dengan menyuplai Jurnal-jurnal sesuai dengan teori yang saya butuhkan. Kemudian orang yang satu almamater dengan saya di SMA yang tidak pernah saya kenal sama sekali, pernah mengirimkan buku American Sign Language yang saya butuhkan, langsung dari Amerika sana. Kebaikan lainnya adalah melalui Kakak angkatan satu almamater di perguruan tinggi saya, yang sama sekali belum kenal, mencarikan buku yang saya perlukan yang hanya diterbitkan oleh salah satu universitas di Malaysia sana. Dan masih banyak lagi kebaikan lain yang tiada terkira yang dikirim Allah di saat saya membutuhkan.
Saya jadi terharu, betapa Tuhan menciptakan kebaikan ini dalam suatu "circle". Mungkin saya tidak bisa membalas orang yang sudah membantu saya secara langsung, tapi saya bisa melakukan kebaikan kepada orang lain, sebagaimana saya diperlakukan baik oleh mereka yang berhati mulia yang telah memperlakukan saya dengan baik.
Semoga Tuhan memberikan kesempatan kepada saya untuk berbuat kebaikan lebih banyak..
Terlepas dari teori siapapun di muka bumi ini, Tuhan telah menetapkan bahwa "kebaikan yang satu akan diikuti oleh kebaikan yang lainnya"
(Pinggir stasiun, Senin, 12 Des 2011 , 09:17 am)
_______________________________________
Beberapa waktu lalu, sahabat satu Instansi saya yang kebetulan ditempatkan di Kantor Pusat, akan berkunjung ke Unit kantor saya, yang berada di daerah. Karena arus lalu lintas yang sangat padat di pagi hari (apalagi hari Senin), maka saya menyarankan dia untuk menggunakan Commuter Line, yang hanya akan memakan waktu 1 jam saja dari tempatnya ke tempat saya. Entah kenapa, saya seperti menomorduakan urusan yang lain ketika melihat dia kebingungan, karena dia tidak pernah naik kereta sendirian, dan saya sangat khawatir jika membiarkan dia pergi sendirian. Dengan setulus hati, saya menunda urusan yang lain dulu, termasuk urusan proposal penelitian yang harus saya kerjakan. Saya melangkahkan kaki menuju stasiun dengan perasaan ringan.
Ketika sedang menunggunya di Stasiun, saya teringat bagaimana salah satu orang terbaik dalam hidup saya, pernah beberapa kali meluangkan waktunya dan menunda urusannya yang sangat banyak, hanya untuk menunggu saya di stasiun dan kemudian membantu (mengantarkan) saya ke suatu tempat yang belum pernah saya kunjungi sama sekali, dan kemudian menemani saya (dengan urusan saya) dan mengantarkan kembali ke stasiun untuk pulang. Thank you dear, Allah always be with you...
Memang sekilas mudah, kalau mau, naik taksi saja atau naik angkutan umum lainnya. Tapi naik angkutan umum sendiri, mencari-cari tempat yang tidak dikenal, bukanlah hal yang menyenangkan, tapi cenderung memberikan ketidaktenangan dan mengancam keselamatan juga (hari gini, kasus kriminal gampang sekali terjadi pada wanita).
Bantuan seperti itu tidak saya peroleh sekali saja, bahkan boleh dikatakan sering, dengan jenis kebaikan yang berbeda-beda. Ya, itu adalah kebaikan Allah yang dikirim melalui manusia-manusia pilihan-Nya.
Kasus lain mengenai kebaikan-kebaikan yang saya peroleh misalnya adalah ketika saya kekurangan referensi untuk penelitian saya, seorang peneliti dari Malaysia yang sama sekali tidak saya kenal, membantu saya dengan menyuplai Jurnal-jurnal sesuai dengan teori yang saya butuhkan. Kemudian orang yang satu almamater dengan saya di SMA yang tidak pernah saya kenal sama sekali, pernah mengirimkan buku American Sign Language yang saya butuhkan, langsung dari Amerika sana. Kebaikan lainnya adalah melalui Kakak angkatan satu almamater di perguruan tinggi saya, yang sama sekali belum kenal, mencarikan buku yang saya perlukan yang hanya diterbitkan oleh salah satu universitas di Malaysia sana. Dan masih banyak lagi kebaikan lain yang tiada terkira yang dikirim Allah di saat saya membutuhkan.
Saya jadi terharu, betapa Tuhan menciptakan kebaikan ini dalam suatu "circle". Mungkin saya tidak bisa membalas orang yang sudah membantu saya secara langsung, tapi saya bisa melakukan kebaikan kepada orang lain, sebagaimana saya diperlakukan baik oleh mereka yang berhati mulia yang telah memperlakukan saya dengan baik.
Semoga Tuhan memberikan kesempatan kepada saya untuk berbuat kebaikan lebih banyak..
Terlepas dari teori siapapun di muka bumi ini, Tuhan telah menetapkan bahwa "kebaikan yang satu akan diikuti oleh kebaikan yang lainnya"
(Pinggir stasiun, Senin, 12 Des 2011 , 09:17 am)
Senin, 02 April 2012
Balita yang tercebur ke dalam sumur dan Aku
Video yang saya lihat di Yahoo hari ini membawa saya kepada masa kecil saya. Secara tidak sengaja, siang tadi setelah makan siang, saya melihat video penyelamatan balita dari sebuah sumur di China. Video tersebut mengingatkan saya pada peristiwa sekitar tahun 1988, dimana saat itu saya baru berumur 6 tahun dan duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar.
Saya ingat sekali, hari itu adalah hari Jumat, sekitar jam 11.30-an WIB. Sepulang sekolah, saya ikut bergabung bermain dengan saudara-saudara saya yang rata-rata umurnya jauh lebih tua dari saya, mereka ada yang kelas 2 SD, kelas 6 SD, dan ada juga 1 orang lagi kelas 1 SD seumur dengan saya. Saat itu kami bermain di dekat sumur timba, untuk mencuci kacang tanah yang akan direbus bersama teman-teman, di halaman belakang rumah, sebagai kegiatan fun cooking.
Sumur timba itu berada di tempat terbuka, samping mushola belakang rumah. Sumur tersebut hanya ditembok sekitar setengah meter saja, dan dibiarkan dalam keadaan terbuka. Sementara teman-teman sibuk mencuci kacang tanah, saya -karena dianggap anak kecil- hanya diperbolehkan menonton saja. Dikarenakan teman-teman saya adalah anak-anak yang lebih besar dari saya, kerumunan mereka menghalangi pandangan saya untuk melihat kacang tanah yang sedang dicuci. Sengaja saya naik ke bibir sumur tersebut, dengan maksud ingin melihat kacang yang sedang dicuci. Saya tidak menganggap ini berbahaya, karena saya sering melakukan panjat memanjat ketika kecil, baik memanjat pohon, naik ke atap rumah, dan lain sebagainya. Sehingga sekali lagi saat itu saya berpikir bahwa naik ke bibir sumur yang hanya setinggi setengah meter bukan merupakan tindakan berbahaya.
Sambil memegang jajanan, saya naik ke bibir sumur. Dengan santainya saya bersandar kepada tiang bambu yang ada di samping sumur. tangan kanan saya sibuk memasukkan jajanan yang dipegang oleh tangan kiri saya, dan memasukkannya ke mulut. Sementara mata saya asyik melihat kacang tanah yang sedang dicuci oleh teman-teman saya.
Sepertinya sandal jepit yang dipakai oleh saya licin, karena tiba-tiba saya terpeleset dan jatuh ke sumur timba yang berkedalaman sekitar 12 meter tersebut. Saat itu musim hujan, sehingga sumur tersebut banyak menyimpan air. Saya yang jatuh ke sumur saat itu adalah seorang anak yang termasuk gemuk dibanding anak seusia saya, dan saya tidak bisa berenang.
Saya ingat persis, bahwa saya seperti mimpi. Saya tidak merasakan sakit ketika jatuh dengan ketinggian 9 meter (air sumur yang terisi sekitar 3 meter), saya juga tidak merasakan saya kemasukan air (sebagaimana saya merasakan kemasukan air ketika tenggelam di kolam renang). Yang saya ingat adalah, tiba-tiba saya sudah berada di permukaan air di sumur tersebut. Dan ketika kepala saya mendongak ke atas, saya melihat teman-teman saya berteriak memanggil-manggil nama saya, sebagian dari mereka ada yang berteriak sambil menangis.
Di permukaan air sumur tersebut, saya melebarkan kedua kaki saya ke dinding sumur. Saat itu, dinding sumur yang berupa tanah liat basah, tidak terasa licin bagi kaki saya. Sementara tangan saya memegang tali karet ember timba, seperti yang dininstruksikan oleh teman-teman saya dari atas. Mungkin mereka bermaksud menarik saya dengan ember timba tersebut.
Sementara di atas sumur sana, Paman saya -yang masih serumah dengan kami- baru saja pulang mengajar, ia baru saja akan menyantap makan siangnya, sebelum kemudian melakukan ibadah sholat Jumat. Sementara ibu saya, sedang sibuk di warungnya melayani pelanggan. Mendengar teriakan teman-teman saya, ibu dan paman saya kaget sekali, mereka langsung berlari menghampiri sumur. Dengan masih menggunakan seragam gadingnya, paman saya berinisiatif untuk turun ke sumur menjemput saya.
Saat itu saya mulai menangis, bukan karena sakit atau takut. Tapi karena saya melihat orang-orang di luar sumur sana menangis dan memanggil-manggil nama saya. Ahh... mereka sayang banget sama saya ya!
Dengan hati-hati, paman saya menggendong dan membawa saya ke luar sumur. Ketika kami tiba di luar sumur, ibu saya langsung menggendong dan memeluk saya dengan banjir air mata. Sementara saya melihat para tetangga sudah banyak berkumpul di tepi sumur, mereka pun ikut mengusap-ngusap saya dan ibu saya. Karena melihat banyak orang menangis, saya pun jadi ikut-ikutan menangis (lagi).
Tuhan, jika ingat peristiwa itu, maka alangkah durhakanya jika aku tidak bersyukur. Mungkin jika Engkau menginginkan, saat itu dengan mudahnya Engkau mengambil nyawa anak kecil gendut yang tidak bisa berenang yang jatuh ke dalam sumur. Namun, dengan begitu baiknya, Engkau melindungi aku saat itu, sehingga sedikitpun aku tidak merasakan sakit dan tidak ada sedikitpun luka di tubuhku saat itu.Engkau menginginkan aku tetap hidup, agar aku menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain di kemudian hari.
Terimakasih Tuhan, Engkau telah menjagaku, melalui tangan-tanganMU -Ibu, Paman, dan orang-orang yang mencintaiku dan menjagaku-. Ijinkan aku membalas kebaikan mereka, dengan melakukan kebaikan kepada mereka dan orang lain.
I love You, ALLAH...
Saya ingat sekali, hari itu adalah hari Jumat, sekitar jam 11.30-an WIB. Sepulang sekolah, saya ikut bergabung bermain dengan saudara-saudara saya yang rata-rata umurnya jauh lebih tua dari saya, mereka ada yang kelas 2 SD, kelas 6 SD, dan ada juga 1 orang lagi kelas 1 SD seumur dengan saya. Saat itu kami bermain di dekat sumur timba, untuk mencuci kacang tanah yang akan direbus bersama teman-teman, di halaman belakang rumah, sebagai kegiatan fun cooking.
Sumur timba itu berada di tempat terbuka, samping mushola belakang rumah. Sumur tersebut hanya ditembok sekitar setengah meter saja, dan dibiarkan dalam keadaan terbuka. Sementara teman-teman sibuk mencuci kacang tanah, saya -karena dianggap anak kecil- hanya diperbolehkan menonton saja. Dikarenakan teman-teman saya adalah anak-anak yang lebih besar dari saya, kerumunan mereka menghalangi pandangan saya untuk melihat kacang tanah yang sedang dicuci. Sengaja saya naik ke bibir sumur tersebut, dengan maksud ingin melihat kacang yang sedang dicuci. Saya tidak menganggap ini berbahaya, karena saya sering melakukan panjat memanjat ketika kecil, baik memanjat pohon, naik ke atap rumah, dan lain sebagainya. Sehingga sekali lagi saat itu saya berpikir bahwa naik ke bibir sumur yang hanya setinggi setengah meter bukan merupakan tindakan berbahaya.
Sambil memegang jajanan, saya naik ke bibir sumur. Dengan santainya saya bersandar kepada tiang bambu yang ada di samping sumur. tangan kanan saya sibuk memasukkan jajanan yang dipegang oleh tangan kiri saya, dan memasukkannya ke mulut. Sementara mata saya asyik melihat kacang tanah yang sedang dicuci oleh teman-teman saya.
Sepertinya sandal jepit yang dipakai oleh saya licin, karena tiba-tiba saya terpeleset dan jatuh ke sumur timba yang berkedalaman sekitar 12 meter tersebut. Saat itu musim hujan, sehingga sumur tersebut banyak menyimpan air. Saya yang jatuh ke sumur saat itu adalah seorang anak yang termasuk gemuk dibanding anak seusia saya, dan saya tidak bisa berenang.
Saya ingat persis, bahwa saya seperti mimpi. Saya tidak merasakan sakit ketika jatuh dengan ketinggian 9 meter (air sumur yang terisi sekitar 3 meter), saya juga tidak merasakan saya kemasukan air (sebagaimana saya merasakan kemasukan air ketika tenggelam di kolam renang). Yang saya ingat adalah, tiba-tiba saya sudah berada di permukaan air di sumur tersebut. Dan ketika kepala saya mendongak ke atas, saya melihat teman-teman saya berteriak memanggil-manggil nama saya, sebagian dari mereka ada yang berteriak sambil menangis.
Di permukaan air sumur tersebut, saya melebarkan kedua kaki saya ke dinding sumur. Saat itu, dinding sumur yang berupa tanah liat basah, tidak terasa licin bagi kaki saya. Sementara tangan saya memegang tali karet ember timba, seperti yang dininstruksikan oleh teman-teman saya dari atas. Mungkin mereka bermaksud menarik saya dengan ember timba tersebut.
Sementara di atas sumur sana, Paman saya -yang masih serumah dengan kami- baru saja pulang mengajar, ia baru saja akan menyantap makan siangnya, sebelum kemudian melakukan ibadah sholat Jumat. Sementara ibu saya, sedang sibuk di warungnya melayani pelanggan. Mendengar teriakan teman-teman saya, ibu dan paman saya kaget sekali, mereka langsung berlari menghampiri sumur. Dengan masih menggunakan seragam gadingnya, paman saya berinisiatif untuk turun ke sumur menjemput saya.
Saat itu saya mulai menangis, bukan karena sakit atau takut. Tapi karena saya melihat orang-orang di luar sumur sana menangis dan memanggil-manggil nama saya. Ahh... mereka sayang banget sama saya ya!
Dengan hati-hati, paman saya menggendong dan membawa saya ke luar sumur. Ketika kami tiba di luar sumur, ibu saya langsung menggendong dan memeluk saya dengan banjir air mata. Sementara saya melihat para tetangga sudah banyak berkumpul di tepi sumur, mereka pun ikut mengusap-ngusap saya dan ibu saya. Karena melihat banyak orang menangis, saya pun jadi ikut-ikutan menangis (lagi).
Tuhan, jika ingat peristiwa itu, maka alangkah durhakanya jika aku tidak bersyukur. Mungkin jika Engkau menginginkan, saat itu dengan mudahnya Engkau mengambil nyawa anak kecil gendut yang tidak bisa berenang yang jatuh ke dalam sumur. Namun, dengan begitu baiknya, Engkau melindungi aku saat itu, sehingga sedikitpun aku tidak merasakan sakit dan tidak ada sedikitpun luka di tubuhku saat itu.Engkau menginginkan aku tetap hidup, agar aku menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain di kemudian hari.
Terimakasih Tuhan, Engkau telah menjagaku, melalui tangan-tanganMU -Ibu, Paman, dan orang-orang yang mencintaiku dan menjagaku-. Ijinkan aku membalas kebaikan mereka, dengan melakukan kebaikan kepada mereka dan orang lain.
I love You, ALLAH...
Sabtu, 31 Maret 2012
Nasi Kotak dan Pemulung
Malam tadi, saya baru menyelesaikan training needs assessment di kampus di Dramaga, teman saya mahasiswa S3 di kampus itu -kampus kami, kebetulan adalah salah satu penanggung jawab di Direktorat Kemahasiswaan di kampus tersebut. Jadi, saya dan beberapa teman-teman yang pernah bertemu di mata kuliah Manajemen Pelatihan, diajak untuk membantu kegiatan latihan dasar kepemimpinan bagi mahasiswa-mahasiswa S1 yang menjadi pengurus organisasi kemahasiswaan di kampus.
Sorenya saya datang agak terlambat, namun beruntung saya masih bisa terlibat dalam sisa waktu acara tersebut. Mahasiswa calon peserta pelatihan ternyata tidak hadir semua. Mungkin sebagian sedang ikut demo menolak kenaikan BBM di Jakarta.
Saya pun mulai melepaskan pandangan ke kiri kanan jalan. Dan saya sudah hampir tiba di lampu merah dimana saya sering melihat pedagang asongan duduk kelelahan bersandar di tiang listrik. Ah, pasti mereka akan senang sekali jika saya memberikan makanan ini. Sayang sekali, saya tidak bisa mengambil arah kanan untuk mendekati tempat mangkal pedagang asongan itu. Jalanan terlalu ramai malam itu, maklum malam itu adalah weekend.
Akhirnya saya melanjutkan perjalanan saya, dan berharap bertemu dengan mereka yang lebih berhak atas makanan ini. Dan di sebelah kiri jalan, saya sepintas melihat seorang bapak sedang mengais tempat sampah, menyortir sampah plastik yang bisa ia jual. Saya berhenti agak jauh, dan kemudian memutar balik motor saya. Saya yakin, dialah orang yang berhak itu.
Beberapa langkah dari bapak itu, saya matikan mesin motor. Kemudian berjalan kaki menghampirinya. Kemudian saya menyapanya,
"Bapak, punten.. ini ada makanan. Mudah-mudahan bisa untuk makan malam bapak."
Ah Tuhan, betapa bahagianya wajah bapak tersebut, dan dengan wajah bahagianya itu, ia segera memasukkan kantong kresek yang berisi makanan tersebut ke dalam gerobak sampahnya.
Saya pun pamit dan segera melanjutkan perjalanan. Air mata ini menggenang. Angin malam, bintang yang redup, asap kendaraan, debu di jalanan, menjadi saksi kebahagiaan bapak tersebut, dan tentunya kebahagiaan saya juga.
Terimakasih Tuhan, atas nikmat berbagi yang engkau berikan.
Walaupun aku belum bisa berbagi banyak seperti mereka-mereka di sana.
Cukupkanlah mereka sebagaimana Engkau senantiasa mencukupkan kami.
Sorenya saya datang agak terlambat, namun beruntung saya masih bisa terlibat dalam sisa waktu acara tersebut. Mahasiswa calon peserta pelatihan ternyata tidak hadir semua. Mungkin sebagian sedang ikut demo menolak kenaikan BBM di Jakarta.
Di acara itu, semua yang hadir mendapat jatah snack box, dan khusus untuk fasilitator, kami mendapat tambahan nasi kotak. Ketika acara ditutup, sisa snack box masih banyak, sehingga kami mendapat masing-masing jatah 3. Dikarenakan sudah malam, kami memutuskan untuk segera pulang -dengan membawa nasi kotak dan 4 snack box.
Sambil mengendarai sepeda motor, saya berpikir bahwa saya tidak harus masak untuk makan malam, karena makanan yang saya bawa dari kampus itu sudah cukup. Hmmm... sounds good! Tapi, pikiran saya berubah ketika di sepanjang jalanan macet di Kota Bogor ini saya melihat anak-anak jalanan di lampu merah, pemulung yang masih mengais sampah walau sudah malam, abang-abang pedagang asongan yang jualan di lampu merah, pak ogah di persimpangan, dan calo-calo angkot yang masih sibuk.
Ahh... saya jadi merenung sambil menurunkan kecepatan motor saya. Betapa beruntungnya saya, karena saya tidak harus bekerja seperti mereka untuk mencari sesuap nasi. Allah masih memberikan saya kemudahan untuk mencari nafkah, tanpa harus berdekil ria seperti mereka.
Teringat akan Nasi kotak yang berisi nasi, ayam bakar lengkap dengan lalapnya dan snack box yang berisi tiga macam kue dan air minum kemasan -yang saya bawa, saya jadi berpikir untuk tidak jadi membawanya ke rumah. Keluarga saya dan saya masih bisa makan ayam dan kue-kue itu kapan-kapan. Terbayang wajah-wajah lusuh anak dan istri para pemulung yang sering saya lihat di TV, atau keluarga pedagang asongan yang menanti mereka di kontrakan petak. Ah, pasti mereka lebih bahagia jika bisa makan malam dengan ayam bakar dan menyantap camilan ini.
Ahh... saya jadi merenung sambil menurunkan kecepatan motor saya. Betapa beruntungnya saya, karena saya tidak harus bekerja seperti mereka untuk mencari sesuap nasi. Allah masih memberikan saya kemudahan untuk mencari nafkah, tanpa harus berdekil ria seperti mereka.
Teringat akan Nasi kotak yang berisi nasi, ayam bakar lengkap dengan lalapnya dan snack box yang berisi tiga macam kue dan air minum kemasan -yang saya bawa, saya jadi berpikir untuk tidak jadi membawanya ke rumah. Keluarga saya dan saya masih bisa makan ayam dan kue-kue itu kapan-kapan. Terbayang wajah-wajah lusuh anak dan istri para pemulung yang sering saya lihat di TV, atau keluarga pedagang asongan yang menanti mereka di kontrakan petak. Ah, pasti mereka lebih bahagia jika bisa makan malam dengan ayam bakar dan menyantap camilan ini.
Saya pun mulai melepaskan pandangan ke kiri kanan jalan. Dan saya sudah hampir tiba di lampu merah dimana saya sering melihat pedagang asongan duduk kelelahan bersandar di tiang listrik. Ah, pasti mereka akan senang sekali jika saya memberikan makanan ini. Sayang sekali, saya tidak bisa mengambil arah kanan untuk mendekati tempat mangkal pedagang asongan itu. Jalanan terlalu ramai malam itu, maklum malam itu adalah weekend.
Akhirnya saya melanjutkan perjalanan saya, dan berharap bertemu dengan mereka yang lebih berhak atas makanan ini. Dan di sebelah kiri jalan, saya sepintas melihat seorang bapak sedang mengais tempat sampah, menyortir sampah plastik yang bisa ia jual. Saya berhenti agak jauh, dan kemudian memutar balik motor saya. Saya yakin, dialah orang yang berhak itu.
Beberapa langkah dari bapak itu, saya matikan mesin motor. Kemudian berjalan kaki menghampirinya. Kemudian saya menyapanya,
"Bapak, punten.. ini ada makanan. Mudah-mudahan bisa untuk makan malam bapak."
Ah Tuhan, betapa bahagianya wajah bapak tersebut, dan dengan wajah bahagianya itu, ia segera memasukkan kantong kresek yang berisi makanan tersebut ke dalam gerobak sampahnya.
Saya pun pamit dan segera melanjutkan perjalanan. Air mata ini menggenang. Angin malam, bintang yang redup, asap kendaraan, debu di jalanan, menjadi saksi kebahagiaan bapak tersebut, dan tentunya kebahagiaan saya juga.
Terimakasih Tuhan, atas nikmat berbagi yang engkau berikan.
Walaupun aku belum bisa berbagi banyak seperti mereka-mereka di sana.
Cukupkanlah mereka sebagaimana Engkau senantiasa mencukupkan kami.
Kamis, 29 Maret 2012
Demo dan mobil plat merah
Malam ini, berita-berita di TV, radio dan internet mengabarkan kondisi yang memanas di Salemba, akibat demo para mahasiswa yang menentang kenaikan BBM.
Saya langsung teringat dengan teman-teman saya yang berkantor dan tinggal di Salemba. Rasa khawatir ini begitu dalam, sungguh saya takut mereka menjadi sasaran amuk mahasiswa pendemo itu. Belum lagi mereka sering memakai kendaraan plat merah.
Aahhh... aku tak bisa membayangkan seandainya mobil plat merah yang ditumpangi temenku dijadikan sasaran amuk massa seperti halnya mobil resmob yang terbakar di sekitar Salemba beberapa jam lalu.
Yaa.... kendaraan plat merah memang sering dijadikan sasaran amuk massa ketika demo rusuh. padahal kendaraan-kendaraan tersebut dibeli dengan uang rakyat, yang artinya mereka membakar milik rakyat.
Semoga Engkau menyelamatkan mereka, Tuhan.
Kerusuhan malam ini mengingatkan saya, bagaimana dulu saya bersama rekan-rekan kantor saya yang berada dalam mobil plat merah, berusaha menyelamatkan diri dari amukan massa.
Saat itu, saya dan rekan-rekan kantor mengunjungi Kantor Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) untuk urusan kerjasama pelatihan bagi para instruktur. Dikarenakan ini adalah dinas kantor, maka siang itu, kami diantar oleh sopir kantor dengan menggunakan mobil plat merah.
Ketika kami tiba di kantor tersebut, massa pendemo yang berasal dari kalangan buruh sudah memenuhi halaman depan Kemenakertrans. Sebagian pendemo terlihat sholat dan makan siang di sekitar kantor tersebut. Saat itu memang jam menunjukkan saatnya istirahat makan siang. Urusan kami hanya sebentar, tidak sampai satu jam. Setelah urusan selesai, secepatnya kami menelpon sopir, yang memang tidak kebagian parkir dan memutuskan berputar di luar kantor sambil menunggu urusan kami selesai. Sopir kami mengatakan bahwa dia mulai kesulitan masuk ke arah Kemenakertrans, karena pendemo kian bertambah. sempat ia mengusulkan agar kami jalan kaki keluar area Kemenakertrans. Namun salah satu dari kami tetap ingin dijemput di kantor tersebut.
Setelah bersusah payah, sopir kami akhirnya bisa masuk ke dalam, itu pun dengan bantuan ketat Polisi yang berjaga di demo tersebut.
Ketika kami keluar area tersebut, kami agak ketakutan, ada segerombolan pendemo dengan bendera di bambu di tangannya, menunjuk ke arah kami, dan kemudian mengejar kami.
Kami hanya bisa berdoa dengan cemas, semoga mereka tidak bermaksud jahat dan semoga jalan tikus yang kami lalui tidak macet. Sopir kami pun terlihat khawatir. Karena kami sama-sama sadar, mobil yang kami naiki ini adalah mobil plat merah yang sering jadi sasaran amukan massa disaat demo.
Alhamdulillah, berkat pertolongan-Nya, kami dengan mobil plat merah milik rakyat tersebut, berhasil selamat dan menjauh dari kerumunan massa yang mulai memanas...
Langganan:
Postingan (Atom)