Meredup
Mulai meluntur
Mulai kabur
Mari beri warna ceria
Sayup
Mulai mendayu
Mulai merayu
Mari beri nada bahagia
Kuncup
Mulai mekar
Mulai menyebar
Mari buat ikebana dengan pita
Kuyup
Mulai basah
Mulai meriah
Mari buat semua bersukacita
Ya...
Senyummu
Kunci semuanya bermula
^_^
___________________________
ya, kunci semuanya adalah senyuman
yang kadang ahrus dipaksakan walau dalam kondisi terpahit sekalipun.
walau kadang harus tersenyum dengan diiringi air mata.
ketika hati ini terasa perih, senyum ini pun haruis tetap ada.
Biarlah Allah yang akan menghapus kesedihan itu... dan jangan biarkan senyum itu hilang.
Senin, 12 Oktober 2009
Senin, 24 Agustus 2009
Senin, 03 Agustus 2009
Standar formal
Memang sih, formal tuh gak ada standarnya. Tiap daerah dan bahkan tiap negara berbeda-beda standarnya. Contohnya, penduduk di negara tertentu boleh-boleh saja memakai sandal dan kaos ketika mengunjungi kantor klien, bertemu atasan atau bahkan bertemu menteri sekalipun.
Tapi Indonesia punya standar sendiri, misalnya ketika kunjungan resmi ke kantor menteri atau gubernur, tak sopan seandainya kita hanya memakai sendal jepit, jeans ketat atau kaos oblong.
Walau pengalamanku tidak banyak dalam mengurus orang-orang luar negeri yang pernah bekerja sama secara resmi dengan pemerintah Indonesia, dimana aku baru mempunyai pengalaman bekerjasama dengan orang Belanda, Jerman, Finlandia, Swedia, Inggris, Jepang, Afrika Selatan, Zimbabwe, Philifina, Pakistan, Bangladesh, Kamboja, Vietnam, Thailand, Nepal, Sri Lanka, Palestina, dan negara muda, Timor Leste. Yang durasinya hanya dalam kurun waktu 1-24 bulan saja. Tapi belum pernah aku menemukan kasus yang sangat mengesalkan seperti ini. Dimana aku harus berulang-ulang mengatakan dan memohon supaya mereka mengikuti standar di Indonesia. Jangan sampai malu-maluin aku sebagai salah satu panitianya.
Masa mau ketemu gubernur, menteri aja masih pada pake stelan ke pasar. Yang merasa tidak enak, kan panitianya. Padahal sebelum mereka disetujui terlibat dalam kerjasama ini, mereka pun sudah menyepakati standar2 yg diterapkan di Indonesia. Ah dasar, memang gak cuma orang kita yang ingkar janji, orang luar pun sama.
Sampai pada kejadian hari ini, dimana aku akan membawa mereka mengunjungi Pusat Rehabilitasinya Departemen Pertahanan yang berdasarkan pengalaman aku, disana tuh kita disambut secara resmi oleh para petinggi2 Dephan. Eh masih ada juga peserta dari negara tetangga yang pakai stelan ke pasar. Ketika aku minta mereka kembali ke kamar untuk ganti, eh yang ada ngambek. Nurut sih nurut (daripada gak dikasih sertifikat lulus sama panitia kali :-P) tapi sambil ngedumel. Memang sih ini mah karena personal dia aja kali, yang udah2, temen senegaranya gak begitu.
Yah sudahlah, ini hanya pengalamanku pagi ini saja, mudah2an kita semua bisa belajar tentang bagaimana menghargai sebuah komitmen terhadap suatu standar.
Any comment?
Tapi Indonesia punya standar sendiri, misalnya ketika kunjungan resmi ke kantor menteri atau gubernur, tak sopan seandainya kita hanya memakai sendal jepit, jeans ketat atau kaos oblong.
Walau pengalamanku tidak banyak dalam mengurus orang-orang luar negeri yang pernah bekerja sama secara resmi dengan pemerintah Indonesia, dimana aku baru mempunyai pengalaman bekerjasama dengan orang Belanda, Jerman, Finlandia, Swedia, Inggris, Jepang, Afrika Selatan, Zimbabwe, Philifina, Pakistan, Bangladesh, Kamboja, Vietnam, Thailand, Nepal, Sri Lanka, Palestina, dan negara muda, Timor Leste. Yang durasinya hanya dalam kurun waktu 1-24 bulan saja. Tapi belum pernah aku menemukan kasus yang sangat mengesalkan seperti ini. Dimana aku harus berulang-ulang mengatakan dan memohon supaya mereka mengikuti standar di Indonesia. Jangan sampai malu-maluin aku sebagai salah satu panitianya.
Masa mau ketemu gubernur, menteri aja masih pada pake stelan ke pasar. Yang merasa tidak enak, kan panitianya. Padahal sebelum mereka disetujui terlibat dalam kerjasama ini, mereka pun sudah menyepakati standar2 yg diterapkan di Indonesia. Ah dasar, memang gak cuma orang kita yang ingkar janji, orang luar pun sama.
Sampai pada kejadian hari ini, dimana aku akan membawa mereka mengunjungi Pusat Rehabilitasinya Departemen Pertahanan yang berdasarkan pengalaman aku, disana tuh kita disambut secara resmi oleh para petinggi2 Dephan. Eh masih ada juga peserta dari negara tetangga yang pakai stelan ke pasar. Ketika aku minta mereka kembali ke kamar untuk ganti, eh yang ada ngambek. Nurut sih nurut (daripada gak dikasih sertifikat lulus sama panitia kali :-P) tapi sambil ngedumel. Memang sih ini mah karena personal dia aja kali, yang udah2, temen senegaranya gak begitu.
Yah sudahlah, ini hanya pengalamanku pagi ini saja, mudah2an kita semua bisa belajar tentang bagaimana menghargai sebuah komitmen terhadap suatu standar.
Any comment?
Sabtu, 25 Juli 2009
Senin, 06 Juli 2009
surgaku
setahun lalu,
aku berbangga hati,
lalu aku umumkan kepada dunia,
bahwa akulah orang yang paling berbahagia
akulah orang yg paling beruntung
yang telah menemukan sorgaku...
Tuhan menaburkan duri dalam surgaku
sedikit demi sedikit aku merasakan tusukan duri tersebut
namun aku tahu
Tuhan hanya ingin membuatku kebal akan sakit
aku sadar
Tuhan hanya ingin menguji kesabaranku
Tuhan menambahkan duri lebih banyak lagi
Aku tahu Tuhan ingin aku lebih kuat
ingin aku teriak...
agar rasa sakitku berkurang
tapi aku malu sama dunia dan seisinya
aku terlanjur bermulut besar
tentang surga ini
Ah...
Aku ingat
Tuhan hanya ingin mengujiku saja
kuurungkan saja niatku untuk berteriak
Aku yakin
Tuhan akan segera membuang duri-duri itu
dan menggantinya
dengan bunga warna warni yg harum
iya kan,Tuhan?
aku berbangga hati,
lalu aku umumkan kepada dunia,
bahwa akulah orang yang paling berbahagia
akulah orang yg paling beruntung
yang telah menemukan sorgaku...
Tuhan menaburkan duri dalam surgaku
sedikit demi sedikit aku merasakan tusukan duri tersebut
namun aku tahu
Tuhan hanya ingin membuatku kebal akan sakit
aku sadar
Tuhan hanya ingin menguji kesabaranku
Tuhan menambahkan duri lebih banyak lagi
Aku tahu Tuhan ingin aku lebih kuat
ingin aku teriak...
agar rasa sakitku berkurang
tapi aku malu sama dunia dan seisinya
aku terlanjur bermulut besar
tentang surga ini
Ah...
Aku ingat
Tuhan hanya ingin mengujiku saja
kuurungkan saja niatku untuk berteriak
Aku yakin
Tuhan akan segera membuang duri-duri itu
dan menggantinya
dengan bunga warna warni yg harum
iya kan,Tuhan?
Kamis, 16 April 2009
kembalikan belahan jiwaku, Tuhan....
Tuhan,
Di tengah gelak tawa dan canda,
aku merasa sepi
sendiri...
separuh jiwaku telah hilang...
Tuhan,
kembalikan belahan jiwaku,
aku mohon...
Di tengah gelak tawa dan canda,
aku merasa sepi
sendiri...
separuh jiwaku telah hilang...
Tuhan,
kembalikan belahan jiwaku,
aku mohon...
Jumat, 20 Maret 2009
Antara Tuna Rungu Wicara dan Albino
Kalo baca judulnya pasti aneh, emang apa hubungannya antara Tuna Rungu WIcara dan Albino?
Emang ada kaitannya gitu?
Yang pasti jawabannya cuma ada di pengalamanku ini.
Pada hari minggu lalu, aku sengaja memanggil dua siswa Tuna Rungu Wicara (TRW) melalui pembina asramanya agar siswa tersebut datang ke rumah dinas yang aku tempati yang tidak jauh dari kantorku. Yah, aku sengaja memanggilnya ke rumah untuk belajar Bahasa Inggris secara private.
Mereka adalah 2 dari 40 siswa jurusan KOmputer dan Elektronika yang menjadi muridku di kantor, yah tepatnya mereka adalah penerima manfaat dari Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Bina Daksa tempatku bekerja. memang, sudah tiga tahun ini, kantorku mecoba menerapkan sitem multi layan, jadi kami tidak hanya melayani Tuna Daksa, tapi juga Tuna Rungu Wicara. Jadi, dari 100 siswa yang kami latih setiap tahun yang ditempatkan di 5 jurusan keterampilan (Penjahitan, KOmputer, Grafhic Design, Elektronika dan Pekerjaan Logam) diantaranya adalah Tuna Rungu Wicara. tahun ini kami melatih 90 Tuna Daksa dan 10 Tuna Rungu Wicara.
Well, kembali ke dua siswa Tuna Rungu Wicara tadi, mereka adalah anak pintar dan aktif. tapi karena ketika belajar di kelas mereka suka terlihat keteteran dengan target belajar yang notabene mengikuti target TUna Daksa, diberikanlah free private ini.
Ketika aku mengajari mereka secara private,mereka sangat terlihat antusias dan menunjukkan penerimaan dan penguasaan materi yang luar biasa. Ketika sedang belajar, tiba-tiba satu dari siswa tersebut berbicara dengan isyaratnya:
"Bu, aku lihat bule, You Tube. aku tidak tahu bicaranya, gak bisa"
"Oh... kamu lihat bule di Video You Tube" kataku mencoba meyakinkan dengan menggunakan bahasa isyarat.
"BUkan, Y U S U F Bule yang di kelas elektro!" jelasnya dengan menggunakan ejaan jari.
OH...
kemudian aku teringat, Yusuf yang dia maksud adalah siswa Tuna Daksa Elektro yang menjadi muridku juga. Yusuf adalah siswa albino yang aku lupa dari propinsi mana dia berasal. Yah memang, karena albino nya ini,Yusuf sering dipanggil bule sama teman-temannya. Nah sebagai Tuna Rungu Wicara yang notabene miskin bahasa, memang siswaku ini tidak tahu yang namanya albino. yang dia tahu kalo kulitnya bule dan rambutnya pirang, maka itulah bule atau dalam kosa kata mereka disebut sebagai Amerika.
Sangat miris sekali aku melihatnya, siswa aktif seperti dia, yang bahkan walaupun Tuna Rungu Wicara, dia adalah atlet catur nasional lho!! wuih... aku saja tidak mengerti cara main catur, dia sudah jadi juara, tingkat nasional lagi!
Kemudian aku menjelaskan apa itu albino kepada mereka. Aku jelaskan dengan kalimat yang sangat sederhana.
Aku jadi merasa tertantang untuk melatih mereka, para Tuna Rungu Wicara yang ada di kantorku. agar mereka tidak lagi menjadi sosok yang miskin bahasa. aku ingin mengajari mereka bahasa yang baik. terutama Bahasa INdonesia dan Bahasa Inggris, dengan cara mengobrol banyak dengan mereka dan berdiskusi tentang hal-hal yang ada di sekitar kita. agar mereka tidak lagi terpenjara di dunia bebas ini. Agar mereka paham apa yang terjadi di luar sana, agar mereka terus menerus mendapatkan informasi seperti halnya anak mendengar.
Aku jadi ingat, bagaimana seorang Tuna Rungu dari Inggris yang tuli total, bisa bicara dengan baik. dan dia bisa menyimak apa yang bibir kita ucapkan, walaupun bibir kita mengucapkan bahasa INdonesia, bukan Bahasa INggris.
Aku sangat berharap, bahwa pendidikan untuk Tuna Rungu di Indonesia bisa lebih baik, walaupun tidak sama dengan sistem yang diterapkan di Inggris sana. Insya Allah aku akan menulis hasil diskusiku dengan Tuna Rungu dari Inggris yang menakjubkan tersebut, diskusi kami tentunya mengenai metode pengajaran untuk Tuna Rungu. Mudah-mudahan aku bisa menulisnya dalam waktu cepat.
Emang ada kaitannya gitu?
Yang pasti jawabannya cuma ada di pengalamanku ini.
Pada hari minggu lalu, aku sengaja memanggil dua siswa Tuna Rungu Wicara (TRW) melalui pembina asramanya agar siswa tersebut datang ke rumah dinas yang aku tempati yang tidak jauh dari kantorku. Yah, aku sengaja memanggilnya ke rumah untuk belajar Bahasa Inggris secara private.
Mereka adalah 2 dari 40 siswa jurusan KOmputer dan Elektronika yang menjadi muridku di kantor, yah tepatnya mereka adalah penerima manfaat dari Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Bina Daksa tempatku bekerja. memang, sudah tiga tahun ini, kantorku mecoba menerapkan sitem multi layan, jadi kami tidak hanya melayani Tuna Daksa, tapi juga Tuna Rungu Wicara. Jadi, dari 100 siswa yang kami latih setiap tahun yang ditempatkan di 5 jurusan keterampilan (Penjahitan, KOmputer, Grafhic Design, Elektronika dan Pekerjaan Logam) diantaranya adalah Tuna Rungu Wicara. tahun ini kami melatih 90 Tuna Daksa dan 10 Tuna Rungu Wicara.
Well, kembali ke dua siswa Tuna Rungu Wicara tadi, mereka adalah anak pintar dan aktif. tapi karena ketika belajar di kelas mereka suka terlihat keteteran dengan target belajar yang notabene mengikuti target TUna Daksa, diberikanlah free private ini.
Ketika aku mengajari mereka secara private,mereka sangat terlihat antusias dan menunjukkan penerimaan dan penguasaan materi yang luar biasa. Ketika sedang belajar, tiba-tiba satu dari siswa tersebut berbicara dengan isyaratnya:
"Bu, aku lihat bule, You Tube. aku tidak tahu bicaranya, gak bisa"
"Oh... kamu lihat bule di Video You Tube" kataku mencoba meyakinkan dengan menggunakan bahasa isyarat.
"BUkan, Y U S U F Bule yang di kelas elektro!" jelasnya dengan menggunakan ejaan jari.
OH...
kemudian aku teringat, Yusuf yang dia maksud adalah siswa Tuna Daksa Elektro yang menjadi muridku juga. Yusuf adalah siswa albino yang aku lupa dari propinsi mana dia berasal. Yah memang, karena albino nya ini,Yusuf sering dipanggil bule sama teman-temannya. Nah sebagai Tuna Rungu Wicara yang notabene miskin bahasa, memang siswaku ini tidak tahu yang namanya albino. yang dia tahu kalo kulitnya bule dan rambutnya pirang, maka itulah bule atau dalam kosa kata mereka disebut sebagai Amerika.
Sangat miris sekali aku melihatnya, siswa aktif seperti dia, yang bahkan walaupun Tuna Rungu Wicara, dia adalah atlet catur nasional lho!! wuih... aku saja tidak mengerti cara main catur, dia sudah jadi juara, tingkat nasional lagi!
Kemudian aku menjelaskan apa itu albino kepada mereka. Aku jelaskan dengan kalimat yang sangat sederhana.
Aku jadi merasa tertantang untuk melatih mereka, para Tuna Rungu Wicara yang ada di kantorku. agar mereka tidak lagi menjadi sosok yang miskin bahasa. aku ingin mengajari mereka bahasa yang baik. terutama Bahasa INdonesia dan Bahasa Inggris, dengan cara mengobrol banyak dengan mereka dan berdiskusi tentang hal-hal yang ada di sekitar kita. agar mereka tidak lagi terpenjara di dunia bebas ini. Agar mereka paham apa yang terjadi di luar sana, agar mereka terus menerus mendapatkan informasi seperti halnya anak mendengar.
Aku jadi ingat, bagaimana seorang Tuna Rungu dari Inggris yang tuli total, bisa bicara dengan baik. dan dia bisa menyimak apa yang bibir kita ucapkan, walaupun bibir kita mengucapkan bahasa INdonesia, bukan Bahasa INggris.
Aku sangat berharap, bahwa pendidikan untuk Tuna Rungu di Indonesia bisa lebih baik, walaupun tidak sama dengan sistem yang diterapkan di Inggris sana. Insya Allah aku akan menulis hasil diskusiku dengan Tuna Rungu dari Inggris yang menakjubkan tersebut, diskusi kami tentunya mengenai metode pengajaran untuk Tuna Rungu. Mudah-mudahan aku bisa menulisnya dalam waktu cepat.
Langganan:
Postingan (Atom)