Berbaring,
kemudian menyepi,
Menyudut,
Menyendiri,
Memegangi sepasang kaki yang kumiliki.
Menunduk,
menyembunyi.
Terkurung sepi,
terpasung malam sunyi,
Terlintas mimpi menampakkan kereta berhenti,
Tidak bisa lagi ku menolak untuk mengikuti,
tidak bisa lagi ku meminta kereta berhenti,
tiket kereta ternyata menang berlaku hari ini,
bekalku belum cukup,
aku memberontak,
badanku belum siap,
aku berteriak,
biarekan aku bermain sejenak,
biarkan aku tertawa terbahak,
Petugas tiket membelalak,
Petugas tiket menarik galak,
Tiket apa ini???
Kereta apa ini???
ku tersadar dari mimpi,
ku masih ingat tulisan tiket tadi.
peluh dan syukur mengikuti,
saat terjaga kembali,
karena,
semua pasti akan mengalami!
di tiket itu tertera
"Tiket waktumu berhenti dan m**i"
Semua pasti akan mengalami.
Minggu, 09 November 2008
Rabu, 01 Oktober 2008
melukis mimpi
Aku melukis mimpi
karena aku dilahirkan sebagai manusia,
mari hidup di hari ini
dan memegang hari esok,
sekarang....
di matamu terbentang masa depan,
permatamu yang tak ternilai
ada di dalam hatimu,
besok pasti juga menyenangkan kan?
mari berjalan beriringan,
karena kamu ada di sini
aku bisa tersenyum terus....
karena aku dilahirkan sebagai manusia,
mari hidup di hari ini
dan memegang hari esok,
sekarang....
di matamu terbentang masa depan,
permatamu yang tak ternilai
ada di dalam hatimu,
besok pasti juga menyenangkan kan?
mari berjalan beriringan,
karena kamu ada di sini
aku bisa tersenyum terus....
ini bukan kemenanganku
Hari ini, hampir semua muslim merayakan hari kemenangan,
mereka bersuka cita
atas kemenangannya.
tapi tidak bagiku,
hari ini adalah hari penyesalan bagiku,
bukan hari kemenanganku,
Ya...
aku telah kalah,
Aku orang yang paling rugi!
tidak memanfaatkan Ramadhan yang agung dengan sebaik-baiknya.
Aku terlalu disibukkan dengan urusan dunia,
Kerjaan lah,
Keluarga lah,
Temen2 lah,
dan tektek bengek lainya yang seharusnya bisa aku tunda!
Tarawihku masih bisa dihitung jari tangan,
Jumlah juz tadarusku bahkan tidak bisa mencapai angka 1.
dan 10 hari terakhir dimaa orang2 menanti lailatul qadar,
justru aku habiskan di Mall dan Bioskop untuk nonton film dari Novel Best Seller!
Sungguh memalukan!
membuatku tak bisa tegak memandag orang2 yang meraih kemenangan yang kutemui di mesjid saat shalat Ied tadi!
Ya Allah yang Maha Pengampun,
ampunilah dosa hambamu yang lalai ini...
Berikan hamba kesempatan untuk bertemu dengan ramadhan esok,
Ampuni hamba Ya Allah...
Amin...
mereka bersuka cita
atas kemenangannya.
tapi tidak bagiku,
hari ini adalah hari penyesalan bagiku,
bukan hari kemenanganku,
Ya...
aku telah kalah,
Aku orang yang paling rugi!
tidak memanfaatkan Ramadhan yang agung dengan sebaik-baiknya.
Aku terlalu disibukkan dengan urusan dunia,
Kerjaan lah,
Keluarga lah,
Temen2 lah,
dan tektek bengek lainya yang seharusnya bisa aku tunda!
Tarawihku masih bisa dihitung jari tangan,
Jumlah juz tadarusku bahkan tidak bisa mencapai angka 1.
dan 10 hari terakhir dimaa orang2 menanti lailatul qadar,
justru aku habiskan di Mall dan Bioskop untuk nonton film dari Novel Best Seller!
Sungguh memalukan!
membuatku tak bisa tegak memandag orang2 yang meraih kemenangan yang kutemui di mesjid saat shalat Ied tadi!
Ya Allah yang Maha Pengampun,
ampunilah dosa hambamu yang lalai ini...
Berikan hamba kesempatan untuk bertemu dengan ramadhan esok,
Ampuni hamba Ya Allah...
Amin...
Selasa, 30 September 2008
Jalan mana yg kan dilalui?
Ikan di kolam masih tetap riang,
Berenang dengan girang,
Tanpa peduli dengan hati majikan,
Yang gundah...
Seperti ditawan dan menanti hukuman,
Ketika daun kering jatuh terjun bebas,
Nurani mulai mencari nafas yang kan lepas,
Bersama butir-butir masa yang telah terkelupas,
Tanpa ada yang membekas.
Kenapa...?
Itu yang selalu dia baca,
Kenapa...?
Itu yang membuat berurai air mata.
Di balik jendela,
Kertas dan pena telah bercampur duka,
Lengan kain sutera,
Telah basah dengan peluh dosa.
Ketika sayup-sayup terdengar suara yang menggema,
Hati pemilik istana bisa merasa lega,
Dunia yang gelap ini telah dibekali berjuta jalan surga,
Tinggal bagaimana niat kita,
Mau melalui jalan yang mana,
SAng penyejuk lembut berkata pada penghuni istana.
^_^
Berenang dengan girang,
Tanpa peduli dengan hati majikan,
Yang gundah...
Seperti ditawan dan menanti hukuman,
Ketika daun kering jatuh terjun bebas,
Nurani mulai mencari nafas yang kan lepas,
Bersama butir-butir masa yang telah terkelupas,
Tanpa ada yang membekas.
Kenapa...?
Itu yang selalu dia baca,
Kenapa...?
Itu yang membuat berurai air mata.
Di balik jendela,
Kertas dan pena telah bercampur duka,
Lengan kain sutera,
Telah basah dengan peluh dosa.
Ketika sayup-sayup terdengar suara yang menggema,
Hati pemilik istana bisa merasa lega,
Dunia yang gelap ini telah dibekali berjuta jalan surga,
Tinggal bagaimana niat kita,
Mau melalui jalan yang mana,
SAng penyejuk lembut berkata pada penghuni istana.
^_^
Senin, 22 September 2008
Membuat history, bukan diary
Berkatalah lantang seperti meriam,
Di setiap malam walaupun kadang kelam,
Karena hari-hari yang akan kita lalui kan menjadi history,
Bukan sekedar diary.
Dalam kata yang melantun penuh rayu,
Dalam tiap huruf itu pula ada harapan lugu,
Jangan pernah hanya duduk terpaku,
Raihlah sampai di jiwaku.
Satu gurat pun tak boleh terlewati,
Rangkailah dengan sepenuh hati,
Supaya jika tiba waktunya nanti,
Cerita manis bisa dinikmati cucu dan buah hati,
Iya..., dari titik mulai kita berdiri,
Iya..., dari sini
Kapan lagi?
Jika tidak, kita tak akan membuat history!
Di setiap malam walaupun kadang kelam,
Karena hari-hari yang akan kita lalui kan menjadi history,
Bukan sekedar diary.
Dalam kata yang melantun penuh rayu,
Dalam tiap huruf itu pula ada harapan lugu,
Jangan pernah hanya duduk terpaku,
Raihlah sampai di jiwaku.
Satu gurat pun tak boleh terlewati,
Rangkailah dengan sepenuh hati,
Supaya jika tiba waktunya nanti,
Cerita manis bisa dinikmati cucu dan buah hati,
Iya..., dari titik mulai kita berdiri,
Iya..., dari sini
Kapan lagi?
Jika tidak, kita tak akan membuat history!
Rabu, 17 September 2008
orang baik...
Orang baik itu masih ada!
Tapi dia tidak merasa baik,
dan gak mau dibilang baik!
dan bahkan gak percaya kalo dia benar2 baik!
wuih...
Dunia memang aneh,
sementara di luar sana,
banyak orang jahat yang ngaku2 baik...
dan gak terima kalo mereka disebut jahat!
Biarlah aku sendiri yg memaknainya.........
Tapi dia tidak merasa baik,
dan gak mau dibilang baik!
dan bahkan gak percaya kalo dia benar2 baik!
wuih...
Dunia memang aneh,
sementara di luar sana,
banyak orang jahat yang ngaku2 baik...
dan gak terima kalo mereka disebut jahat!
Biarlah aku sendiri yg memaknainya.........
Minggu, 14 September 2008
Memaknai keindahan yang ada
Pasir yang selalu berbisik,
kadang juga megusik,
Bersedir menabur warna,
Butir-butir kecil mengisi fana.
Merona di tengah cahaya,
Merinai di tepi samudera,
Lembut ketika disapa,
Lugas ketika ditempa.
Sepercik air bisa mencairkan suasana,
Setitik salju bisa mendinginkan durjana,
Segenggam pasir mungkin tiada guna,
Seluas samudera biru,
mungkin baru terasa pasir ada di sana.
Hitam sungguh buruk rupa,
Putih menawan dunia,
Hitam putih sama saja,
Dia memberi senyum penawar luka.
Bagaimana kita memaknai keindahan yang ada,
Nelayan berbisik pada pasir yang sudah medapatkan semangat jiwa...
kadang juga megusik,
Bersedir menabur warna,
Butir-butir kecil mengisi fana.
Merona di tengah cahaya,
Merinai di tepi samudera,
Lembut ketika disapa,
Lugas ketika ditempa.
Sepercik air bisa mencairkan suasana,
Setitik salju bisa mendinginkan durjana,
Segenggam pasir mungkin tiada guna,
Seluas samudera biru,
mungkin baru terasa pasir ada di sana.
Hitam sungguh buruk rupa,
Putih menawan dunia,
Hitam putih sama saja,
Dia memberi senyum penawar luka.
Bagaimana kita memaknai keindahan yang ada,
Nelayan berbisik pada pasir yang sudah medapatkan semangat jiwa...
Langganan:
Postingan (Atom)